Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Desember 2011

Kamera SLR

Kamera refleks lensa tunggal‎ (bahasa Inggris: Single-lens reflex (SLR) camera) adalah kamera yang menggunakan sistem jajaran lensa jalur tunggal untuk melewatkan berkas cahaya menuju ke dua tempat, yaitu Focal Plane dan Viewfinder, sehingga memungkinkan fotografer untuk dapat melihat objek melalui kamera yang sama persis seperti hasil fotonya. Hal ini berbeda dengan kamera non-SLR, dimana pandangan yang terlihat di viewfinder bisa jadi berbeda dengan apa yang ditangkap di film, karena kamera jenis ini menggunakan jajaran lensa ganda, 1 untuk melewatkan berkas cahaya ke Viewfinder, dan jajaran lensa yang lain untuk melewatkan berkas cahaya ke Focal Plane.
Kamera SLR menggunakan pentaprisma yang ditempatkan di atas jalur optikal melalui lensa ke lempengan film. Cahaya yang masuk kemudian dipantulkan ke atas oleh kaca cermin pantul dan mengenai pentaprisma. Pentaprisma kemudian memantulkan cahaya beberapa kali hingga mengenai jendela bidik. Saat tombol dilepaskan, kaca membuka jalan bagi cahaya sehingga cahaya dapat langsung mengenai film

Komponen Kamera SLR

Pembidik

Salah satu bagian yang penting pada kamera adalah pembidik (viewfinder). Ada dua sistem bidikan, yaitu:
  • jendela bidik yang terpisah dari lensa (Viewfinder type)
  • bidikan lewat lensa (Reflex type).
Kamera SLR, sesuai dengan namanya (Single Lens Reflex), menggunakan sistem bidikan jenis kedua. Mata fotografer melihat subjek melalui lensa, sehingga tidak terjadi parallax, yaitu keadaan dimana fotografer tidak melihat secara akurat indikasi keberadaan subjek melalui lensa sehingga ada bagian yang hilang ketika foto dicetak. Keadaan parallax ini pada dasarnya terjadi pada pemotretan sangat close up dengan menggunakan kamera viewfinder.

Jendela Bidik

Jendela bidik merupakan sebuah kaca yang di dalamnya tercantum banyak informasi dalam pemotretan. Jendela bidik memuat penemu jarak (range-finder), pilihan diafragma, shutter speed, dan pencahayaan (exposure).

Lensa

Dalam fotografi, lensa berfungsi untuk memokuskan cahaya hingga mampu membakar medium penangkap (film). Di bagian luar lensa biasanya terdapat tiga cincin, yaitu cincin panjang fokus (untuk lensa jenis variabel), cincin diafragma, dan cincin fokus.

Macam-macam lensa

  • Lensa Standar. Lensa ini disebut juga lensa normal. Berukuran 50 mm dan memberikan karakter bidikan natural.
  • Lensa Sudut-Lebar (Wide Angle Lens). Lensa jenis ini dapat digunakan untuk menangkap subjek yang luas dalam ruang sempit. Karakter lensa ini adalah membuat subjek lebih kecil daripada ukuran sebenarnya. Dengan menggunakan lensa jenis ini, di dalam ruangan kita dapat memotret lebih banyak orang yang berjejer jika dibandingkan dengan lensa standar. Semakin pendek jarak fokusnya, maka semakin lebar pandangannya. Ukuran lensa ini beragan mulai dari 17 mm, 24 mm, 28 mm, dan 35 mm.
  • Lensa Fish Eye. Lensa fish eye adalah lensa wide angle dengan diameter 14 mm, 15 mm, dan 16 mm. Lensa ini memberikan pandangan 180 derajat. Gambar yang dihasilkan melengkung.
  • Lensa Tele. Lensa tele merupakan kebalikan lensa wide angle. Fungsi lensa ini adalah untuk mendekatkan subjek, namun mempersempit sudut pandang. Yang termasuk lensa tele adalah lensa berukuran 70 mm ke atas. Karena sudut pandangannya sempit, lensa tele akan mengaburkan lapangan sekitarnya. Namun hal ini tidak menjadi masalah karena lensa tele memang digunakan untuk mendekatkan pandangan dan memfokuskan pada subjek tertentu.
  • Lensa Zoom. Merupakan gabungan antara lensa standar, lensa wide angle, dan lesa tele. Ukuran lensa tidak fixed, misalnya 80-200 mm. Lensa ini cukup fleksibel dan memiliki range lensa yang cukup lebar. Oleh karena itu lensa zoom banyak digunakan, sebab pemakai tinggal memutar ukuran lensa sesuai dengan yang dibutuhkan.
  • Lensa Makro. Lensa makro biasa digunakan untuk memotret benda yang kecil.

Fokus

Fokus adalah bagian yang mengatur jarak ketajaman lensa, sehingga gambar yang dihasilkan tidak berbayang.

Kecepatan rana

Kecepatan rana (shutter speed) artinya penutup (to shut = menutup). Pada waktu kita menekan tombol untuk memotret, terjadi pembukaan lensa sehingga cahaya masuk dan mengenai film. Pekerjaan shutter adalah membuka dan kemudian menutup lagi.
Kecepatan rana adalah kecepatan shutter membuka dan menutup kembali. Shutter speed dapat kita atur. Jika kita memilih 1/100, maka ia akan membuka selama 1/100 detik.
Skala shutter speed bervariasi. Ada yang B, 1, ½, ¼, 1/8, 1/15, 1/30, 1/60, 1/125, 1/250, 1/500, 1/1000, dst. Mulai dari ½ sampai 1/1000 biasanya hanya disebut angka-angka dibawah saja. Artinya 100 = 1/100 dan 2 artinya ½ detik. Namun jika angka 2 itu berwarna, maka artinya adalah 2 detik.
Sedangkan B artinya bulb, yaitu jika tombol ditekan maka shutter membuka, dan ketika tombol dilepaskan maka shutter menutup.
Yang perlu diingat adalah, semakin lama kecepatan shutter, jumlah cahaya yang masuk akan semakin banyak. Semakin besar angkanya, maka kecepatan shutter akan semakin tinggi(shutter akan semakin cepat membuka dan menutup).
  • Speed cepat
Speed cepat kita gunakan untuk memotret benda yang bergerak. Semakin cepat pergerakan benda tersebut, maka semakin besar angka speed shutter yang kita butuhkan.
  • Speed lambat
Jika benda yang bergerak cepat dipotret dengan speed shutter rendah, maka hasilnya ialah gambar akan tampak kabur, seakan-akan disapu, namun latar belakangnya jelas. Efek ini kadang-kadang bagus dan menimbulkan sense of motion dari benda yang dipotret.
Cara lain adalah dengan menggerakkan kamera ke arah gerak objek (panning) bertepatan dengan melepas tombol. Hasil gambarnya ialah latar belakang kabur, tetapi gambar subjek jelas. Seberapa jelas atau kaburnya subjek tergantung pada cepat atau lambatnya gerakan panning. Jika gerakannya bersama-sama dengan gerakan subjek, maka gambar yang dihasilkan jelas. Sebaliknya jika kamera lebih cepat atau lebih lambat dari gerakan subjek, maka hasilnya akan blur (kabur).

Diafragma

Diafragma atau aperture (atau sering disebut bukaan) berfungsi untuk mengatur jumlah volume cahaya yang masuk. Alat ini biasanya terdapat di belakang lensa. Terdiri dari 5-8 lempengan logam yang tersusun dan dapat membuka lebih lebar atau lebih sempit.
Penulisan angka diafragma biasanya adalah f/2, f/2.8, f/4, f/5.6, f/8, f/11, dan f/16, dst. Semakin kecil angka diafragma, maka bukaan yang dihasilkan akan semakin lebar sehingga cahaya yang masuk semakin banyak.
  • Bukaan besar
Bukaan diafragma yang besar digunakan untuk menghasilkan foto dengan subjek yang tajam dengan latar belakang blur.
  • Bukaan kecil
Bukaan kecil akan menghasilkan gambar yang tajam mulai dari foreground hingga background. Bukaan kecil biasanya digunakan dalam pemotertan landscape yang memang membutuhkan detail dan ketajaman di selurh bagian foto.

Depth of Field

Depth of field adalah jumlah jarak antara subjek yang paling dekat dan yang paling jauh yang dapat muncul di fokus tajam sebuah foto. Misalnya, jika kita memotret pohon-pohon yang berdiri bersaf-saf, maka yang akan tampak pada foto yang telah dicetak adalah beberapa pohon di depan tampak jelas kemudian makin ke belakang makin kabur.
Depth of field sangat tergantung pada:
  • Diafragma. Semakin kecil bukaan diafragma, semakin besar depth of field yang dihasilkan. Bukaan penuh akan menghasilkan depth of field yang sangat dangkal.
  • Jarak fokus lensa (focal length). Semakin panjang focal length, semakin sempit depth of field. Maka dari itu, lensa wide angle memiliki depth of field yang sangat besar.
  • Jarak pemotretan. Semakin dekat jaraknya, semakin sempit depth of field yang dihasilkan.
Fungsi depth of field adalah untuk mengaburkan latar belakang jika latar tersebut tidak sesuai dengan subjeknya.

Pencahayaan

Pencahayaan atau exposure adalah kuantitas cahaya yang diperbolehkan masuk; intensitas (diatur oleh bukaan lensa) dan durasi (diatur oleh shutter speed) cahaya yang masuk dan mengenai film.
Film dengan ASA tinggi, memerlukan sedikit cahaya untuk menghasilkan gambar yang jelas. Sebaliknya, film dengan ASA rendah memerlukan banyak cahaya untuk menghasilkan gambar yang jelas.
Exposure diukur oleh alat yang disebut light-meter. Jika light-meter menunjukkan kekurangan cahaya, maka kita bisa memperkecil bukaan diafragma atau memperlambat shutter speed. Sebaliknya, jika light-meter menunjukkan kelebihan cahaya maka kita bisa memperbesar bukaan diafragma atau mempercepat shutter speed.
  • Overexposure
Merupakan keadaan dimana jumlah cahaya yang masuk terlalu banyak. Gambar yang dihasilkan akan terlalu terang.
  • Underexposure
Merupakan keadaan dimana jumlah cahaya yang masuk terlalu sedikit. Keadaan ini menghasilkan gambar yang gelap.

Cara Kerja Kamera

Pada dasarnya kamera foto dibagi menjadi dua macam, yaitu analog dan digital. Berikut adalah penjelasan dari keduanya:
1. KAMERA ANALOG
Jenis yang pertama ini adalah generasi pertama kamera foto, Disebut analog karena pengoperasianya menggunakan sistem mekanik dan film/media yang di gunakan masih menggunakan pita seluloid.

Film pita seluloid
Tentunya tipe kamera analog memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satu kelebihannya adalah kemampuan film yang memiliki resolusi tinggi, sehingga bisa di perbesar hasil cetaknya sampai batas ukuran tertentu. Sedangkan kelemahannya terletak pada mahalnya biaya operasional, evisiensi waktu dan ketidakpraktisan di masa kini.

2. KAMERA DIGITAL
Kamera jenis ini merupakan main stream sekarang. Hampir 90% dari kamera yang kita lihat saat ini adalah kamera digital. Kamera tipe ini menggunakan media penyimpanan digital untuk penyimpanan frame biasanya berupa memory card, compact flash, atau bahkan harddisk. Biaya operasional kamera ini paling murah karena hasil foto dapat disimpan dalam media digital yang tidak memakan banyak ruang dan lebih mudah dilihat, dipindah atau digandakan.
CCD pada kamera DSLR
Untuk mdapat menerima gambar, kamera digital menggunakan sensor penerima gambar, terdapat dua tipe penerima gambar yaitu CMOS (Complementary Metal Oxide Semiconductor) dan CCD (Charge Coupled Device). CCD pada awalnya dipakai oleh kamera Nikon sedangkan CMOS digunakan oleh kamera Canon, namun seiring waktu dengan lebih efisiennya kerja CMOS dan kemampuannya untuk lebih stabil terhadap suhu sensor saat bekerja akhirnya Nikon menggunakan sensor CMOS pada kamera digital di generasi ke3nya (D90, D300, D700, D3, D3x).

Didalam sensor kamera digital terdapat elemen penerima cahaya yang terdiri dari titik-titik yang disebut sebagai piksel (PIXEL), setiap sensor terdiri dari 3 layer dengan masing-masing layer berfungsi untuk menyaring tiap elemen warna. Contoh; layer red akan menyaring dan menyimpan spektrum warna merah, green akan menyaring spektrum warna hijau dan blue akan menyaring spektrum warna biru secara terpisah. kemudian image tersebut akan dicompose menjadi sebuah image tunggal yang kemudian akan muncul di LCD.
Ada beberapa jenis kamera digital yang dapat dipilih saat ini antara lain :
· Digital pocket point and shot
Kamera Digital Pocket
Jenis kamera digital ini merupakan jenis yang paling sederhana sesuai namanya kamera ini dapat digunakan amat mudah, tidak ada penyetelan tingkat lanjut yang aneh yang dapat membingungkan pengguna awam, umumnya digunakan oleh pemula ataupun sekedar untuk mengambil foto-foto biasa. Walaupun saat ini sudah mulai banyak kamera point & shot yang dilengkapi fitur beraneka ragam tetapi jenis kamera ini masih kurang cukup untuk mendapatkan foto-foto kreatif yang memerlukan teknik tertentu.
Kelebihan : Kompak, Sederhana
Kekurangan : Spesifikasi cenderung rendah
· Digital Prosumer
Jenis yang satu ini satu tingkat lebih tinggi daripada kamera point & shot biasa. Biasanya dilengkapi dengan sensor lebih baik serta spesifikasi lain yang lebih tinggi. Tidak jarang juga kamera jenis ini dilengkapi dengan focal length (zoom) yang cukup tinggi. Memiliki lebih banyak setting yang dapat membantu pengambilan foto kreatif tapi juga masih dilengkapi berbagai macam fitur yang dapat membantu pengguna pemula untuk mendapatkan foto yang lebih baik. Perlu diingat kamera tipe ini menggunakan lensa yang tidak dapat ditukar-pasang (interchangeable) sehingga pengguna dibatasi dengan rentang zoom tertentu.
Kelebihan : Cocok untuk entry fotografer maupun sebagai secondary camera
Kekurangan : Cenderung lebih besar dan berat dibanding kamera point & shot
· DSLR (Digital Single Lens Reflect)
Jenis ini yang biasa digunakan oleh para fotografer baik pemula sampai profesional. Menggunakan lensa yang dapat ditukar ganti (interchangeable lens) sehingga sebuah body DSLR dengan merek yang sama dapat diganti dengan berbagai jenis tipe lensa dengan merek yang sama pula. Tipe ini masih memiliki beberapa jenis lagi berdasarkan jenis sensornya.
# Sensor Crop Factor
Menggunakan sensor yang lebih kecil dari film 35mm, tepatnya adalah 23,7mm x 15,7mm. DSLR dengan sensor kecil memiliki crop factor yang biasanya bernilai 1,5 hingga 1,6 kali yang artinya setiap lensa yang digunakan akan dikalikan nilai tesebut, hal ini akan memberikan keuntungan dalam pemotretan tele karena dengan krop factor sebesar 1,5X maka penggunaan lensa 200mm akan setara dengan lensa 300mm.
# Sensor Full Frame
Menggunakan ukuran sensor yang sama dengan film 35mm yaitu 36mm x 24mm.sehingga memiliki kepadatan piksel yang lebih banyak dibanding sensor yang tidak full frame.
#Medium Format
Memiliki sensor yang lebih besar daripada film 35mm kamera tipe ini biasanya digunakan untuk keperluan khusus yang mewajibkan hasil cetak dalam ukuran yang teramat sangat besar, dengan teknologi saat ini digital back medium format telah mencapai 45 megapixel.
Kelebihan : Interchangeable lens, kualitas foto yang tinggi
Kekurangan : Harga cenderung lebih mahal, Operasional yang cenderung lebih rumit
· Kamera SLD(Single Lens Direct)

Ini merupakan jenis kamera yang terbaru. Menyerupai DSLR dengan interchangeable lens kamera ini memiliki mekanisme yang berbeda dengan DSLR, lebih ringan dan kecil dibandingkan DLSR namun memiliki kualitas foto yang hampir setara dengan DSLR menempatkan kamera ini sebagai generasi masa depan dari kamera.
Kelebihan : Kualitas DSLR ukuran pocket point & shot
Kekurangan : Harga yang masih cukup tinggi.
B. Anatomi Kamera DSLR
Hampir sama dengan kamera analog SLR, kamera Digital SLR juga memiliki beberapa kesamaan elemennya. Berikut detail anatomi dari kamera digital SLR
1. Badan kamera
Anatomi badan kamera DSLR
1) Lensa
Adalah elemen yang menempel pada badan kamera dan bisa di lepas dan di ganti. Fungsi lensa kamera sama dengan mata pada manusia.
2) Cermin pemantul dengan sudut 45 derajat
Berfungsi memantulkan gambar yang masuk melalui lensa untuk kemudian gambar di kirim ke prisma dan di pantulkan kembali ke view finder sampai akhirnya bisa di lihat oleh mata kita.
Cermin ini akan terangkat jika tombol shutter di tekan, sehingga gambar yang masuk melalui lensa akan langsung terarah pada sensor/film.
Cermin mengirimkan gambar ke prisma
3) Focal plane shutter
Merupakan perangkat yang berbentuk seperti tirai, terbuat dari bahan karbon. Focal plane shutter berkaitan erat dengan nilai kecepatan/speed. Semakin cepat nilai speed, maka akan semakin cepat pula tirai membuka dan menutup. Artinya semakin sedikit juga cahaya yang masuk ke sensor.
Berikut adalah peebandingan beberapa kecepatan terhadap focal plane shutter
Focal Plane Shutter yang berbentuk seperti tirai
 

Cara kerja Focal plane shutter berkaitan erat dengan kecepatan/shutter speed
Prinsip kerja Shutter/Focal plane shutter adalah menahan sinar yang masuk agar tidak mengenai film sampai kita menekan tombol shutter, kita tombol ditekan maka tirai shutter akan terbuka selama waktu tertentu yang ditentukan, sehingga film mendapatkan cahaya secukupnya.
Lamanya tirai shutter terbuka inilah yang disebut dengan shutter speed, kita dapat mengontrol lamanya sebuah tirai terbuka.
Jika shutter lebih lama terbuka maka cahaya lebih banyak yang masuk, sedangkan jika shutter lebih cepat tertutup maka cahaya yang masuk lebih sedikit.
4) Sensor
Sensor pada kamera digital berfungsi untuk menangkap gambar yang masuk. Bentuk fisik dari sensor ini berupa lembaran tipis bernama CMOS atau CCD. Kepadatan pixel sebuah gambar di tentukan dari seberapa baik kualitas sensor. Ukuran sensor berbeda-beda pada tiap kamera. Antara 23,7mm x 15,7mm hingga yang full frame 36mm x 24mm.


Sensor CMOS yang di gunakan beberapa kamera terbaru
Apa itu piksel/pixel ?
Piksel atau picture element,adalah elemen terkecil citra digital yang bisa dilihat mata. Sensor citra secara fisik (dua dimensi) dibuat dari rangkaian ribuan sel yang peka cahaya. Makin banyak jumlah pixel dalam suatu citra, makin besar resolusi spatial citra tersebut.

Megapixel (Megapiksel) terdiri berasal dari gabungan kata "mega" yang menunjukkan satuan juta, dan pixel yang bermaksud titik elemen gambar (English = Picture Element). Jadi singkatnya megapixel berarti sejuta titik elemen gambar.
Suatu gambar digital dibentuk oleh ribuan titik tersebut. Makin tinggi jumlahnya, maka makin tinggi juga resolusi gambarnya. Jumlah megapiksel ini biasanya digunakan untuk menunjukkan kualitas gambar.
Resolusi gambar adalah hasil kali dari jumlah piksel secara vertikal dan jumlah piksel secara horizontal. dengan kata lain resolusi adalah jumlah piksel dalam sebuah image digital yang secara langsung berhubungan erat dengan ukuran sensor sebuah kamera, pada masa lalu kamera berukuran sensor 36mm x 24mm hanya mampu menangkap gambar beresolusi 6MP karena teknologi pada masanya hanya bisa menciptakan sensor dengan kepadatan sensor 6MP, seiring dengan kemajuan teknologi, jumlah piksel dalam sensor kamera semakin padat sehingga dengan ukuran sensor 36mm x 24mm saat ini kepadatan pikselnya dapat mencapai 24MP.
Resolusi gambar dan namanya
Nama
Resolusi
(megapiksel)
Panjang x lebar
CGA
0.064
320×200
EGA
0.224
640×350
VGA
0.3
640×480
SVGA
0.5
800×600
XGA
0.8
1024×768
SXGA
1.3
1280×1024
UXGA
1.9
1600×1200
WUXGA
2.3
1920×1200
5) Focusing screen
Terdapat indikator titik fokus, agar memudahkan saat melakukan merubahan fokus di lensa.
Kaca yang terdapat indikator fokus lensa Gambar indikator titik fokus
6) Condenser lens
7) Optical glass pentaprism/prisma
8) View Finder
Lubang tempat mata kita melihat hasil gambar.
9) Tombol Shutter
Tombol pelepas Focal Plane Shutter

LCD dan View finder pada kamera DSLR Posisi Tombol Shutter
Shutter speed
Adalah berapa lamanya tirai shutter terbuka, shutter speed 1 detik akan menghasilkan gambar yang lebih terang dari pada shutter speed 1/1000 detik.
Grafik Shutter Speed
Setengah detik shutter speed lebih gelap 1 Stop dari shutter speed satu detik.
shutter speed 1/30s lebih terang 2 stop dari shutter speed 1/125 begitu seterusnya.
shutter speed 1/250 akan lebih gelap 3 stop dibandingkan dengan shutter speed 1/30
10) Self timer
Merupakan fasilitas otomatis yang mampu memfungsikan pelepas Focal plane shutter dengan patokan detik. Durasi dapat di set sesuai kebutuhan.
Self timer pada kamera analog Self timer pada digital dengan icon bergambar jam
2. Lensa
Lensa kamera
Didalam badan lensa kamera DSLR terdiri dari rangkaian lensa cembung dan cekung yang akhirnya membentuk gambar yang di inginkan. Terdapat juga jendela diafragma yang menentukan banyak sedikitnya cahaya yang masuk dengan mengatur besaran angka diafragma. Angka diafragma diwakulkan dengan huruf “f”, sehingga tertulis f2,8, dst.

Diafragma
Begini cara kerja diafragma; Sebelum cahaya mengenai film maka cahaya harus melewati sebuah lubang yang terbuka yang di sebut Aperture. Besaran lubang yang terbuka ini disebut dengan F-STOP. Besaran angka F-Stop ini disebut dengan F-Number,
Pada standar fotografi makin kecil F-Number berarti lubang yang terbuka lebih besar, jika lubang yang terbuka lebih besar maka akan lebih banyak cahaya yang akan masuk mengenai film atau sensor.
Aperture sering juga disebut dengan diagframa.
Aperture Number(F-Stop)
Adalah angka yang menunjukkan seberapa besar lubang aperture terbuka.
Angka semakin kecil pada f-number berarti makin besar diafragma terbuka, sebaliknya jika f-number semakin besar justru lubang yang terbuka semakin kecil karena pada dasarnya nilai F-Stop adalah 1/F-Stop.
Menyeimbangkan shutter speed dan Aperture
Untuk menghasilkan gambar yang baik kita perlu menyimbangkan shutter speed dengan bukaan aperture, untuk itu kita perlu mengetahui sifat atau efek perbedaan angka dari shutter speed dan efek akibat besar kecilnya bukaan diagframa.
Shutter speed yang lambat kita akanbisa mendapatkan motion atau efek gerakan jika memotret obyek yang bergerak, juga ada kemungkinan foto menjadi buram karena terjadinya guncangan akibat tangan kita yang tidak stabil. Shutter speed yang cepat dapat menciptakan obyek yang membeku tidak bergerang (freezing).
Bukaan F-Stop yang besar akan mengakibatkan Deep Of Field (ruang tajam) yang tipis. Sedangkan F-Stop yang kecil akan menghasilkan DOF yang luas.
Untuk lebih jelasnya dapat melihat gambar dibawah ini.
Besaran Sudut lensa
Lensa Kamera DSLR juga bisa di ganti-ganti (Interchangeable), sehingga bisa di sesuaikan dengan kondisi lapangan. Angka yang terdapat pada lensa juga mengindikasikan ukuran lensa.
Angka pada lensa kamera
Angka 70-50-35-24-18, mengindikasikan panjang fokal lensa. Angka kecil berarti akan membuka lensa pada sudut lebar, sedangkan angka besar akan memperkecil sudut lensa. Berikut gambar yang di hasilkan oleh dua besaran lensa yang berbeda.
Kotak warna merah (yang di luar) jika menggunakan lensa sudut lebar, sedangkan warna biru (didalam) jika menggunakan lensa dengan sudut sempit
Melepas dan memasang lensa kamera
Pada dasarnya teknik melepas dan memasang lensa kamera DSLR sama dengan kamera SLR. Yaitu kita harus menekan tombol mengunci sebelum melepas lensa, dan memutar lensa ke arah kanan. Terdapat indikator berupa titik berwarna merah pada badan kamera dan lensa saat posisi terkunci. Perhatikan gambar berikut
Cara melepas lensa kamera:
· Tekan tombol pengunci lensa yang terdapat pada badan kamera
· Putar lensa kearah kanan (perhatikan arah panah pada gambar diatas)
Cara memasang Lensa kamera:
· Tempelkan lensa kamera seperti pada posisi lensa terlepas
· Tekan ke badan kamera sambil memutar ke arah kiri
· Temukan titik merah yang terdapat pada badan kamera dan lensa sampai berbunyi KLIK. Berarti lensa sudah terkunci.
C. Beberapa hal yang wajib anda ketahui tentang kamera digital
1) Optical zoom dan Digital
Zoom terdiri dari 2 jenis, pertama adalah optical zoom dimana kemampuan zooming adalah hasil dari kemampuan mekanisme lensa untuk melakukan zooming itu sendiri. contoh; zooming menggunakan lensa 70-200mm pada panjang fokal 200mm. gambar yang didapat adalah aktual 200mm.
Sedangkan yang kedua adalah digital zoom yaitu adalah zoom yang biasa dilakukan bila kamera sudah mencapai batas maksimal kemampuan melakukan optical zoom. contoh, sebuah kamera compact memiliki lensa 14-70mm optical zoom dan 3x digital zoom. artinya bila telah dilakukan zooming hingga pada 70mm dan tetap ingin dilakukan zooming maka image yang didapat pada panjang fokal 70mm akan di perbesar sebesar ukuran zoom yang diinginkan. berarti yang diperbesar adalah IMAGE YANG DITANGKAP SENSOR PADA 70mm. hasilnya pasti akan mengecewakan, bayangkan saja. image sebesar korek api di fotokopi perbesar hingga sebesar kertas folio.. pasti buruk
Gambar hasil Optical Zoom jauh lebih baik dari Digital Zoom
2) Image Quality & image size
Antara kualitas gambar dan ukuran gambar sangat berkaitan, meskipun pada aplikasinya dapat di pisahkan. Artinya, kita bisa memperoleh kualitas gambar yang baik dengan mengecilkan ukuran/resolusi gambar.
Namun perlu diketahui bahwa dua media yang sering kita gunakan untuk melihat hasil foto adalah media cetak dan media elektronik, dalam hal ini monitor tv atau komputer. Monitor komputer hanya memerlukan 72 DPI untuk mendapatkan kualitas gambar yang baik. Sedangkan media cetak jauh lebih besar, yaitu minimal 600 DPI. Oleh karena itu, kita harus tentukan media apa yang nantinya akan menjadi tujuan akhir menampilkan foto kita.Bila anda ingin mencetak foto anda, maka pertahankan image size, yaitu minimal 600 DPI.
3) White balance
White Balance adalah istilah dalam fotografi untuk kalibrasi titik berwarna putih. Sebagaimana dijelaskan pada bagian suhu warna / color temperature, warna yang dianggap putih dapat bervariasi tergantung pada kondisi pencahayaan. Konsep "warna putih" menjadi bukan sesuatu yang absolut. Kebanyakan kamera digital dapat diatur untuk memilih warna putih sesuai selera Anda, biasanya dengan cara mengarahkan kamera ke obyek berwarna putih dalam sinaran cahaya yang ada, teknik ini disebut manual white balance. Beberapa kamera dapat juga mendeteksi adanya cahaya sekitar dan menentukan sendiri warna putih yang dimaksud - hal ini disebut automatic white balance. Sedangkan pemilihan white balance berdasarkan pilihan jenis lampu yang disediakan pada kamera digital disebut pre-set white balance.
Gambar kanan adalah hasil setelah di atur white balance nya
*(akan jelas terlihat jika print out berwarna)
4) File Format RAW dan JPEG
RAW adalah file uncompressed, file tersebut menyimpan informasi spektrum warna dan metadata lebih banyak dibanding format JPEG, kelebihan format RAW adalah image dapat dikoreksi white balance setelah pemotretan, begitu pula dengan detail highlight yang masih dapat direcovery. Pada tiap kamera file RAW memiliki nama yang berbeda, NEF untuk nikon dan CR2 untuk canon.

JPEG (Joint Photographic Experts Group) adalah format gambar yang paling populer dan paling mudah diakses karena ringan dan cukup baik, namun untuk detail kekayaan warna tidak lebih baik dari RAW dan TIFF.
5) Buffer
adalah besarnya memory sebuah kamera yang dialokasikan untuk memotret secara beruntun sebelum image tersebut di save kedalam memory card. setiap kamera memiki buffer yang berbeda. biasanya pada saat memotret beruntun di viewfinder akan muncul angka yang menunjukkan berapa jumlah foto yang mampu di capture. bila buffer sudah menunjukkan nilai nol, maka kamera tidak dapat mengcapture gambar lagi hingga proses buffering selesai dan space memory tersedia kembali.
6) TTL (Through The Lens)
adalah sistem pengukuran cahaya pada kamera dimana light meter hanya mengukur cahaya yang masuk kedalam lensa saja. beda degan light meter eksternal yang mengukur semua cahaya lingkungan memotret. sistem pengukuran TTL biasanya diikuti dengan pengukuran yang lebih spesifik yaitu:
1. Center weight metering, hanya mengukur area ditengah frame
2. Spot metering, mengukur diarea tertentu dalam ukuran spot (titik)
3. Matrix, perhitungan cahaya berdasarkan histogram distribusi shadow, midtone dan highlight
4. Average metering, mengukur pencahayaan secara rata-rata cahaya yang masuk ke kamera,
Pengukuran cahaya dengan mengandalkan spot metering pada
arah langit membuat objek didepannya menjadi gelap/siluet. Hal ini disebut backlight

7) Speed sync
adalah kemampuan sebuah kamera untuk dapat membuka rananya bertepatan dengan cahaya lampu flash menyala. setiap kamera memiliki nilai sync yang berbeda. pada umumnya kecepatan tertinggi kamera untuk dapat membuka rana secara bertepatan dengan menyalanya lampu flash adalah 1/250 sec.
Speed sync yang salah akan mengakibatkan
sebagian gambar terang atau gelap
8) Memory Card
Adalah media penyimpanan data digital. Seperti halnya flash disk atau hardisk, sebenarnya memory card bisa di gunakan untuk menyimpan berbagai data digital, seperti lagu, file office, film, foto, dan lainnya. Besaran space dari memory card juga bervariasi, tergantung kebutuhan. Sebagian besar kamera DSLR dibekali dengan slot memory card agar data foto dapat di simpan dengan cepat dan praktis. Jenis dari memory card juga bermacam-macam. Ada SD, SDHC, MMC dan mini SD. Jenis SD adalah ayng paling banyak digunakan untuk media bergerak seperti kamera digital.
Jenis kartu memori dan kapasitasnya